Strategi Siasati Keuangan Keluarga Bagi Freelancer

Square

“Freelancer” atau pekerja lepas yang bergerak di semua lini disarankan harus menerapkan strategi yang tepat untuk menyiasati kestabilan keuangan keluarganya, kata perencana keuangan Agustina Fitria Aryani.

“Sebagai seorang pekerja lepas tentu pola penghasilannya berbeda dengan karyawan biasa. Pekerja lepas umumnya memiliki penghasilan yang tidak tetap, baik dalam hal nominal maupun waktu diterimanya penghasilan,” kata Agustina Fitria Aryani yang juga Financial Planner Head dari OneShildt Financial Planning di Jakarta, dikutip dari Antara Rabu 20 September 2017.

Ia mengatakan, penghasilan pekerja lepas sangat tergantung pada seberapa produktif dia dalam bekerja.

Saat seorang pekerja lepas terbaring sakit misalnya, kata Agustina, maka ia tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang.

“Selain itu karena tidak terikat kepada satu pemberi kerja, maka biasanya tidak memperoleh benefit yang sama dengan pekerja tetap, misalnya dalam hal fasilitas kesehatan, bonus, tunjangan hari raya, akibatnya banyak pengeluaran yang harus ditanggung sendiri,” katanya.

Maka, kata dia, seringkali problem yang dialami oleh para pekerja lepas adalah menyesuaikan penghasilan yang diterima dengan uang yang harus dikeluarkan, karena penghasilan berubah-ubah sedangkan kebutuhan biasanya tetap bahkan bisa lebih tinggi saat terjadi risiko seperti sakit atau kecelakaan, kebutuhan saat hari raya, saat melahirkan anak, dan lain-lain.

Oleh karena itu pekerja lepas perlu mengantisipasi kondisi yang bisa mempengaruhi kestabilan keuangannya seperti saat terbaring sakit dan tidak bisa bekerja/menghasilkan uang.

Sedangkan pengeluaran bertambah karena harus berobat, maka pekerja lepas perlu mempunyai asuransi kesehatan, minimal berupa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, atau jika menginginkan cakupan proteksi yang lebih luas dan nyaman, bisa menambah dengan asuransi kesehatan swasta yang menanggung semua biaya rawat inap di rumah sakit.

Sedangkan untuk menggantikan penghasilan saat dia tidak bisa bekerja karena sakit, saran Agustina dapat menggunakan dana darurat.

Saat job/order menurun, maka penghasilan juga menurun, maka pekerja lepas perlu mengamati kapan saat siklus penurunan job, sehingga bisa diantisipasi misalnya dengan meningkatkan produktivitas di bulan-bulan lainnya, memperluas target pasar, melakukan diversifikasi produk/jasa, mengusahakan agar ada repeat order/kontrak jangka panjang, dan sebagainya.

“Selain itu, saat sedang mendapat penghasilan yang lebih tinggi daripada pengeluaran rata-rata bulanan pekerja lepas perlu menyisihkan ke dalam rekening khusus (cadangan penghasilan), jadi penghasilan bulan tersebut tidak dihabiskan untuk konsumsi untuk bulan itu saja,” katanya.

Saat pekerja lepas perempuan melahirkan dan dia juga sebagai penyokong nafkah keluarga maka produktivitasnya akan menurun (untuk sementara waktu bahkan bisa juga secara permanen).

Untuk mengantisipasi biaya melahirkan, maka perlu menjadi peserta JKN dan saat sedang hamil perlu menabung untuk mencukupi biaya-biaya yang melebihi atau tidak dicakup oleh JKN.

Setelah melahirkan, mungkin pekerja lepas perempuan perlu menyesuaikan jenis pekerjaannya agar masih dapat dilakukan dari rumah agar tetap bisa menjaga hidup seimbang dengan anak-anaknya.

Agustina menyarankan agar pekerja lepas perlu mengantisipasi pengeluaran besar yang sifatnya rutin, seperti pembayaran pajak (seperti Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Penghasilan jika Kurang Bayar/pajak yang terutang masih lebih besar dari pada pajak yang sudah dipotong oleh pemberi kerja), premi asuransi tahunan (jika ada), pengeluaran untuk hari raya, perawatan kendaraan bermotor (jika ada), dan biaya tahunan sekolah anak (jika ada).

“Apalagi kalau pengeluaran tersebut jatuh tempo di waktu yang hampir bersamaan. Oleh karena itu perlu menyisihkan penghasilan atau menabung untuk membiayai pengeluaran tersebut,” katanya.

Agustina mengatakan, pekerja lepas biasanya melakukan semua pekerjaannya sendiri, yaitu sebagai pemilik, penjual, pengatur keuangan, dan pelaksana, sehingga perlu mengatur waktu dan menjaga keseimbangan hidup agar kesehatan tetap terjaga.

“Untuk mengantisipasi sakit ringan yang hanya membutuhkan rawat jalan, perlu disisihkan dana untuk rawat jalan atau menggunakan manfaat dari JKN,” katanya.

Memang faktanya, kata dia, karena penghasilan yang tidak tetap maka pekerja lepas di Indonesia masih sulit mendapatkaan akses untuk memperoleh kredit dari bank untuk membeli rumah.

Oleh karena itu pekerja lepas perlu menyiapkan sendiri dananya atau dapat juga melakukan pembelian rumah dengan kredit dari developer, namun dengan jangka waktu yang lebih pendek (maksimal 5 tahun) dan cicilan jauh lebih besar.

Jadi mereka memang perlu memiliki cadangan dana yang cukup besar sebagai uang muka agar cicilan masih terjangkau oleh penghasilan yang fluktuatif.

Fenomena pekerja lepas saat ini memang merebak, kata dia, terlebih pekerja seperti itu sangat diminati generasi Y (kaum milenial) yang jumlahnya sudah mencapai 32 persen dari jumlah penduduk di Indonesia.

Mereka memiliki sifat yang senang berkelompok dan berkolaborasi untuk mewujudkan mimpi-mimpi pekerjaan dan bisnisnya dengan memanfaatkan berbagai aplikasi media sosial dan teknologi informasi digital.

Oleh karenanya kaum milenial ini identik dengan orang yang bebas belajar, bebas bekerja, dan bebas berbisnis.

“Sehingga mereka cenderung memilih untuk mengelola bisnisnya sendiri atau sebagai pekerja lepas yaitu tidak terikat dengan satu perusahaan yang bukan miliknya,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *